Senin, 08 Oktober 2012

REINFORCEMENT DAN PUNISMENT DALAM MODIFIKASI PERILAKU



A.   REINFORCEMENT

I.       PENGERTIAN
Adalah proses dimana tingkah laku diperkuat oleh konsekuensi yang segera mengikuti tingkah laku tersebut. Saat sebuah tingkah laku mengalami penguatan maka tingkah laku tersebut akan cenderung untuk muncul kembali pada masa mendatang.
Reinforcement dapat didefinisikan sebagai:
1.      Kejadian perilaku tertentu
2.      Diikuti oleh akibat yang segera mengikutinya
3.      Hasilnya menguatkan tingkah laku tersebut.

CONTOH :
                        Pada percobaan yang dilakukan oleh Thorndike (tahun 1911), Ia meletakkan seekor kucing yang lapar pada sebuah kandang. Di sisi luar kandang yang dapat dilihat oleh kucing, Thorndike meletakkan makanan. Pintu kandang akan terbuka jika kucing memukul tuas yang ada pada pintu. Pintu tidak akan terbuka kecuali kucing dapat memukul tuas tersebut. Setelah melakukan beberapa gerakan, akhirnya kucing dapat memukul tuas tersebut dan akhirnya pintu terbuka sehingga kucing tersebut dapat mengambil makanan tersebut. Perlakuan yang sama dilakukan pada waktu yang berbeda dan ternyata kucing dengan segera mampu membuka pintu kandang dengan memukul tuas yang ada.
Pada contoh ini, kucing tersebut akan cenderung untuk memukul tuas saat ini dimasukkan kedalam kandang, karena tingkah laku tersebuat segera menghasilkan akibat terbukanya pintu dan kucing dapat mengambil makanan yang ada. Mengambil makanan (pada kucing yang lapar tersebut) merupakan konsekuensi yang reinforced (memperkuat) tingkah laku kucing memukul tuas yang ada.

II.    JENIS-JENIS REINFORCEMENT
Reinforcement dibagi menjadi dua, reinforcement positif dan reinforcement negatif. reinforcement positif dan negatif adalah proses yang memperkuat perilaku yaitu, mereka meningkatkan probabilitas bahwa perilaku tersebut akan terjadi di masa depan. Penguatan positif dan negatif dibedakan oleh sifat konsekuensi yang mengikuti perilaku.
-          Reinforcement positif
Penguatan positif didefinisikan sebagai berikut.
Terjadinya perilaku diikuti dengan penambahan stimulus (penguat) atau peningkatan intensitas stimulus, yang menghasilkan penguatan perilaku. Bentuk-bentuk reinforcement positif dapat berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).
-          Reinforcement Negatif
Terjadinya perilaku diikuti dengan penghapusan stimulus (stimulus aversif) atau penurunan intensitas stimulus, yang menghasilkan penguatan perilaku. Bentuk-bentuk reinforcement negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).

III. FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEEFEKTIFAN REINFORCEMENT

1.      Immediacy/Kesegeraan
Waktu antara munculnya perilaku dan konsekuensi yang menguatkan adalah faktor yang penting. Untuk konsekuensi yang lebih efektif, konsekuensi tersebut harus diberikan segera setelah munculnya tingkah laku. Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari adalah bila kita mengutarakan sebuah lelucon kepada teman kita dan dengan segera teman kita tertawa karenanya, maka kita cenderung akan kembali mengutarakan lelucon tersebut di kemudian hari. Namun jika setelah kita mengutarakan lelucon tersebut ternyata teman kita terlambat tertawa, maka kita akan cenderung untuk tidak mengulangi mengutarakan lelucon tersebut.
2.      Contingency
Ketika respon secara konsisten diikuti oleh konsekuensi yang segera, konsekuensi tersebut akan lebih efektif untuk menguatkan (reinforce) respon tersebut. Saat respon tersebut menghasilkan konsekuensi dan konsekuensi tersebut tidak muncul kecuali respon tersebut hadir terlebih dahulu, kita katakan bahwa contingency hadir diantara respon dan konsekuensi. Contohnya saat kita menekan tombol starter pada motor kita dan dengan segera motor tersebut dapat nyala, maka kita akan cenderung menyalakan mesin motor kita hanya dengan menekan tombol stater tersebut. Namun jika ternyata suatu saat tanpa menekan tombol stater motor kita dapat menyala, maka perilaku menekan tombol stater ini akan melemah. Contoh lain adalah, ibu yang berjanji pada anaknya, bahwa setiap kali anaknya berhasil mendapatkan peringkat I di kelasnya maka ia akan memberikan anaknya hadiah berlibur ke pulau Bali, hal ini dapat membuat anak menjadi rajin belajar dan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan peringkat I. Namun jika suatu saat ia diajak ibunya untuk berlibur ke pulau Bali meskipun ia tidak mendapatkan peringkat I, maka perilaku rajin belajar dan usaha keras anak bisa jadi melemah.
3.      Eshtablishing
Eshtablishing Adalah kejadian yang mengubah nilai sebuah stimulimenjadi sebuah penguat. Contoh: Saat kita dalam kondisi haus, air akan lebih bermakna dibandingkan saat kita dalam kondisi normal.
4.      Individual Differences / Perbedaan Individual
Reinforcer (penguat) akan berbeda pada setiap individu. Contoh: permen mungkin akan menjadi penguat pada anak kecil, namun (mungkin) tidak pada orang dewasa.
5.      Magnitude/Kwantitas
Dengan establishing operations yang sesuai, biasanya, efectiveness suatu stimulus sebagai reinforcer adalah lebih besar jika jumlah atau penting/besar suatu stimulus lebih besar. Contohnya: Kita akan lebih berusaha keras untuk keluar dari bangunan yang sedang terbakar dibandingkan dengan usaha kita untuk keluar dari suatu tempat yang panas terkena matahari



B.   PUNISHMENT

I.     PENGERTIAN
Pemberian stimulus yg mengikuti suatu perilaku mengurangi kemungkinan berulangnya perilaku tersebut. Ada tiga hal yang dapat digunakan untuk mendefenisikan punishment/ hukuman tersebut :
-          Perilaku tertentu terjadi
-          Sebuah konsekuensi segera mengikuti langkah tersebut
-          Sebai hasilnya, perilaku cenderung untuk tidak muncul kembali dimasa mendatang

II.  JENIS-JENIS PUNISHMENT

Punishment dibagi menjadi dua macam, ada punishment positif dan ada punishment negatif.
-          Punishment positif
Kejadian suatu perilaku yang diikuti penyajian stimulus yang tidak menyenangkan dan membuat tingkahlaku yang tidak diinginkan tidak muncul kembali dimasa yang akan datang.
Contoh : Pada kasus seorang anak wanita yang suka menampar dirinya sendiri. Saat wanita itu menampar dirinya sendiri, peneliti segera menerapkan/memberikan shok elektric singkat dengan menggunakan alat shok hand-held. (walaupun shok ini menyakitkan, tapi tidak membahayakan bagi wanita tersebut).
Sebagai hasilnya, perilaku menampar diri sendiri pada wanita ini pun berkurang. Kasus ini merupakan contoh penerapan positif reinforcement karena painful stimulus (stimulus yang menyakitkan) segera diberikan saat wanita itu menampar dirinya sendiri, dan tingkah laku (menampar diri sendiri) berkurang sebagai hasilnya.


-          Punishment negatif
Kejadian suatu perilaku yang diperkuat dengan penghilangan stimulus dan dan membuat tingkahlaku yang tidak diinginkan tidak muncul kembali dimasa yang akan datang.
Contoh : Pada kasus seorang anak yang suka menginterupsi (menyela/mengganggu) pekerjaan orang tuanya. Dengan menggunakan prinsip negatif punishment, maka cara untuk mengurangi/menghilangkan tingkah laku suka menginterupsi (menyela/mengganggu) ini adalah dengan menghilangkan beberapa penguat lainnya (yang disenangi anak dan tidak berkaitan langsung dengan tingkah lakunya) – seperti dengan tidak memberikan uang jajan atau larangan menonton TV – setiap kali anak melakukan interupsi (menyela/mengganggu) pekerjaan orang tua. Dengan begitu, anak akan mengurangi perilaku suka menginterupsi-nya. Kasus ini merupakan contoh penerapan negatif reinforcement karena stimulus yang memperkuat segera dihilangkan saat anak itu menginterupsi orang tuanya, dan tingkah laku (menginterupsi) berkurang sebagai hasilnya.

III. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEEFEKTIFAN PUNISHMENT

1.      Immediacy/Kesegeraan
Waktu antara munculnya perilaku dan konsekuensi yang menguatkan adalah faktor yang penting. Untuk konsekuensi yang lebih efektif, konsekuensi tersebut harus diberikan segera setelah munculnya tingkah laku. Contoh: saat seorang murid mengeluarkan kata-kata kasar di kelas, maka guru yang sedang mengajar segera menunjukkan wajah marah kepada anak tersebut. Perilaku guru ”menunjukkan wajah marah” pada sang murid, akan menjadi lebih efektif jika dilakukan segera pada saat anak mengeluarkan kata-kata kasar dibandingkan dengan menundanya hingga 30 menit kemudian atau beberapa menit kemudian.
2.      Contingency
Ketika respon secara konsisten diikuti oleh konsekuensi yang segera, konsekuensi tersebut akan lebih efektif untuk menghentikan respon tersebut. Punishment akan lebih efektif jika punishment tersebut dipasangkan secara konsisten.
3.      Establishing Operations
Adalah kejadian yang mengubah nilai sebuah stimulimenjadi sebuah penguat. Contoh: mengatkan kepada anak bahwa siapa yang berbuat nakal saat makan malam maka ia tidak akan mendapatkan makanan penutup (dessert), menjadi kurang efektif jika saat itu anak sudah menikmati dua atau lebih makanan penutup.
4.      Individual Differences/Perbedaan Individual dan Magnitude/Kwantitas dari Punisher.
Keefektivan pemberian punisher (penghukum) akan berbeda pada setiap individu. Keefektivan punisher juga di tentukan oleh kwantitas punisher-nya. Contoh: digigit nyamuk adalah sesuatu yang dinilai sebagai stimulus yang sedikit tidak menyenangkan untuk kebanyakan orang; perilaku memakai celana pendek di dalam hutan mungkin menjadi punishment karena nyamuk menggigit kaki, dan merindukan memakai celana panjang pada situasi ini diperkuat secara negatif (negatively reinforced) untuk menghindari gigitan nyamuk. Contoh lainnya, sebagai pembanding, adalah sakit yang sangat dirasakan akibat sengatan lebah merupakan punisment bagi kebanyakkan orang. Orang akan menghentikan perilaku yang akan mengakibatkannya disengat lebah dan meningkatkan perilaku mereka yang dapat menghindarkan mereka dari sengatan lebah. Karena disengat lebah lebih menyakitkan bila dibandingkan dengan digigit nyamuak, maka sengatan lebah menjadi lebih efektif sebagai punisher.















DAFTAR PUSTAKA
-          Kazdin, Alan E (1994). Behavior Modification in Applied Setting. California : Brooks/ Cole Publishing Company
-          Martin, Garry. Joseph Pear. (2003). Behavior Modification : What It Is and How to Do It Seventh Edition. New Jersey : Prentice Hall. Inc
-          Miltenberger, R. G. (2008). Behavior Modification Principles And Procedures. Thomson Learning, Inc.
-          Syah, M. (2003). Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
-          Bandura, A. 1969. Principles of Behavior Modification. New York: Rinehart & Winston.
-          Blackham, G.J. and Silberman, A. 1971. Modification Of Child Behavior. Belmont, California : Wadsworth Publ. Company.
-          Gunarso, Singgih.D. 1992. Konseling Dan Psikoterapi. Jakarta : PT BPK Gunung Mulia.
-          Ratna Wilis Dahar. 1989.  Teori-Teori Belajar. Jakarta : Erlangga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar